Sunday, July 26, 2015

KABAYAN DI WAENA (secuil kisah perjalanan pertama ke Papua) Oleh: Babay Suhendri


Berat rasanya meninggalkan keluarga di rumah. ditambah pada saat liburan sekolah. ingin rasanya meninggalkan pekerjaan dan memilih menemani istri dan anak tercinta berlibur. Pentingnya  tugas menuntut saya harus dapat memberikan  pemahaman terhadap keluarga soal tanggung jawab. Soal komitmen yang menyangkut nasib pendidikan anak berkebutuhan khusus di penjuru timur negeri ini. Ya, ini tugas negara.

Meski sudah sering melakukan perjalanan lewat udara, namun kali ini terasa menegangkan. mungkin karena beberapa hari sebelumnya saya berduka atas meninggalnya sahabat seperjuangan saya di Organisasi. Sempat juga terbawa mimpi jumpa dengan kawan yang telah meninggal seminggu yang lalu itu. hadeuuhh.. saya berdoa saja lahaulawala kuwata ila billah, bismillahi majreha wamursaha inna robbi lagofururohiim..

Akhirnya lewat sudah ketegangan itu. pesawat garuda GA656 mendarat dengan selamat di Bandar Udara Sentani Jayapura jam 06.45. saya bergegas ke toilet untuk cuci muka dan gosok gigi. maklumlah penerbangan semalaman, selama 5 jam cukup untuk tidur (tapi ga ngiler lah, bisa malu saya sama pramugari cantik).

tidak lama saya selesai membasuh muka dan gosok gigi handphone berdering. "hallo, selamat pagi. bapak posisi dimana?". tanya di balik handphone itu. "saya posisi persis di pintu keluar. bapak lihat saya yang pakai jaket baseball warna abu abu dan kaos warna kuning..?" jawab saya. rupanya ada yang menjemput saya di bandara. Pak Fredy namanya, beliau suami dari ibu kepala sekolah luar biasa di Waena Jayapura yang akan saya kunjungi.

Jalan sekitar 40 meter dari pintu keluar sudah sampai di parkiran. pa Fredy menuju ke kendaraan minibus warna merah dan membukakan pintu untuk saya. hmm.. jadi ga enak nih, serasa pejabat saja.

Gunung Siklop dan Danau Sentani

kamipun keluar dari area parkir Bandara Sentani. dari jauh, depan pintu keluar parkir sudah disambut pemandangan pegunungan. orang Papua menyebutnya gunung Siklop. dikenal juga gunung "air susu ibu". disebut demikian karena banyak mata air yang mengalir hingga ke danau Sentani. Gunung batu Siklop cukup luas dan menjulang tinggi. kendati bebatuan, namun cukup hijau dan sejuk di pagi hari.

Sementara itu di sebelah kanan tampak pemandangan Danau Sentani. konon danau ini menyimpan banyak ikan. Adat setempat melarang bagi warga asing untuk menangkap ikan di sana apalagi untuk keperluan komersil. airnya sangat bening, terhampar luas hingga ke lautan. Di tepian danau dilingkung perbukitan hijau, sangat teduh dipandang. hmm.. keindahan alam tanah Papua memang memiliki daya magis yg sangat kuat.

Obrolan di perjalanan itu mengalir begitu hangat. "kalo di tempat kami, pegunungan seperti ini pasti sudah habis ditambang. tanahnya buat urugan, bebatuannya pun dieksploitasi menjadi batu belah, batu split, makadam, mungkin ada juga yang diolah jadi batu akik.." celetuk saya. pa Fredy tersenyum mendengar celetukan saya. "oya belum lama ini kan pak Presiden Jokowi kunjung kemari, meresmikan beberapa proyek besar diantaranya di Buper Waena ini akan dibangun Kampus IPDN, juga fasilitas Pon tahun 2020." pa fredy menjawab sambil menunjukkan lokasi proyek persis disamping gunung batu Siklop. ya, memang geografis di Papua pegunungan, dan perairan.

Freeport

Perjalanan cukup lancar, lalu lintas dari bandara menuju waena tidak begitu padat. "o ia, kalo lokasi Freeport dimana ya pa..?" saya bertanya penasaran. Konon kabarnya Freeport adalah tambang emas terbesar di dunia. perusahaan pertambangan yang sahamnya dimiliki oleh Freeport-McMoRan Cooper & Gold Inc(AS). perusahaan ini adalah pembayar pajak terbesar di Indonesia dan penghasil emas terbesar di dunia melalui tambang Grasberg.
"oh, kalo freeport ada di kawasan Tembaga Pura, Kabupaten Mimika. untuk menuju kesana, bapak harus naik pesawat sekali lagi dari Bandar Sentani." jawab pak Fredy. beliau pun menceritakan pernah menjadi karyawan disana, dan tahu bahwa hasil tambang freeport melimpah ruah, mulai material Emas, Tembaga dan Perak. lainnya adalah Molybdenum dan Rhenium. yang dua ini adalah hasil samping dari pemrosesan bijih tambang. nyaris tidak ada yang terbuang katanya.

Dalam obrolan singkat itu sempat diceritakan bahwa dulu Freeport adalah pegunungan keramat. Di kawasan ini, jangankan digali atau ditambang dimasuki daerahnya saja sangat dilarang. namun sejak tahun 1971 mulai ada penambangan Erstberg, dan ironisnya warga suku asli Amugeme harus terusir dari lokasi itu, pindah ke wilayah kaki bukit.

Koteka

Dialog tambah menarik saja, sayapun bertanya. "maaf pa Fredy, kalo saya ingin melihat suku yang masih menggunakan koteka dimana ya pa..?. Koteka adalah alat khusus untuk menutupi maaf, alat vital pria suku asli Papua. terbuat dari Labu air, Lagenaria siceraria. kulit labu tua yang dikeringkan. menurut salah satu suku Paniai, Koteka berarti "pakaian". Sebagian suku di pegunungan Jayawijaya menyebutnya Holim atau Horim.(www.wikipedia.org)

Menurut penuturan pa Fredy, warga papua yang masih menggunakan Koteka dapat dijumpai di Wamena, sebuah distrik di Kabupaten Jayawijaya. untuk menuju ke sana dapat ditempuh  menggunakan tranportasi udara. Lagi, harus dari Bandara Sentani Jayapura.

Papua memiliki beragam adat istiadat setiap daerah memilikii kebiasaan yang berbeda-beda dan mere meyakininya sebagai bagian dari kehidupan mereka. eksistensi suku-suku di Papua sangat unik majemuk. kurang lebih 300 suku dan 1.000 bahasa. suku-suku yang besar diantaranya adalah suku Wamena, Asmat, Dani, Moni, Amungme, Duga, Paniai dan lainnya. (williamaw52.blogspot.com)

Mendengarkan cerita banyak dari pak redy, tak terasa perjalanan sampai juga ke tempat menginap. pa Fredy mengantarnya ke Hotel Metta Star di jalan raya Kemiri, Sentani, Abepura. Setelah check in, pak Fredy pamitan karena pagi ini akan menjalankan kebaktian.

Kabayan di Waena

Pagi itu cerah sekali, sinar matahari merasuk dari jendela kamar hotel yang manghadap ke Timur. barang bawaan tidak begitu banyak, hanya 2 helai baju selebihnya dokumen. cukup dikelurkan dari tas dan tidak perlu dimasukan ke lemari. badan terasa lelah, namun belum nyaman untuk istirahat. akhirnya memutuskan untuk mandi. ya, biar penat hilang dan segar kembali.

Selesai mandi dan berganti pakaian, saatnya "leyeh-leyeh". Merebahkan badan supaya bisa istirahat. Televisi dinyalakan untuk menonton berita. Sudah pindah beberapa chanel tidak ada acara menarik. beruntung pake tivi kabel, siaran televisi berbayar. saat itu menayangkan film indonesia. ya, nikmati saja yang ada meski film "jadul".

Di kamar yang tidak begitu luas, tapi cukup nyaman untuk isirahat itu saya terbawa suasana. Sesekali terbahak melihat adegan banyol di film itu. Tayangan kocak yang diperankan aktor kawakan Didi Petet ini sangat menghibur. karakter yang diperankannya sangat kuat. bahkan melekat hingga kini. Siapa yang tidak kenal KABAYAN SABA KOTA..?

"geal geol gitak giteuk.." demikian ucap kabayan dalam sebuah adagan. hampir disemua sekuel membuat saya ngakak (terbahak). Entahlah, apa yang membuat saya terbawa suasana kocaknya. mungkin juga karena banyak media elektronik nasional, infotainment memberitakan secara masif tentang meninggalnya Didi Petet.

Dalam akhir film itu saya berfikir. Inilah yang disebut panjang umur.  Orang akan mengenang prestasi kita, kebaikan kita dan tindak-tanduk kita selama hidup. Baru setelah meninggal biasanya akan terkuak apa yang pernah diperbuat. Termasuk  jasa besar terhadap bangsa.

Bagaimanapun, Kang Didi Widiatmoko telah menanamkan nilia-nilai selama masa hidupnya. Aktifitasnya di dunia teater dan perfilman memberi kontribusi nyata di bidang seni peran. Karirnya mencuat sejak tahun 1988. Beberapa film yang sangat laku di pasaran adalah Catatan si Boy (1987), Cinta Anak Jaman (1988) dan Kabayan Saba Kota (1989).

Sebagai Indonesia sejati, saya merasa bangga dengan karya anak bangsa ini. Terlebih lagi bisa saya nikmati meski jauh dari ibu kota, walaupun berbeda budaya, berbeda suku, disini di Papua. Atas pikiran itu saya berinisiatif menulis kesan, suguhan pertama saya, Kabayan di Waena.
dipersembahkan untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Semoga bermanfaat..



0 comments :

Post a Comment